Pucungrejo, Rabu 8 April 2020 Tim Sister Village (Desa Bersaudara) yang terdiri dari Desa Pucungrejo, Sumber dan Ngawen melakukan kajian terhadap merapi yang baru-baru ini memperlihatkan adanya peningkatan aktifitas erupsi dengan jangka waktu yang tidak bisa di prediksi. Rapat terbatas ini dilakukan ditengah merebaknya virus corona (Covid-19) untuk mengantisipasi agar kepanikan yang ada ditengah Warga Masyarakat tidak begitu menggebu.

        Masyarakat Merapi sendiri dalam menghadapi ancaman Erupsi Merapi , terbiasa dengan menggunakan pengelolaan pengungsi secara komunal atau berkelompok. Hal ini sudah terjadi sejak erupsi-erupsi terdahulu. Hal tersebut juga dialami oleh Desa Sumber, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

       Dalam perencanaan prosedur tetap ( Protap ) konsep desa bersaudara antara desa Sumber dengan desa penyangga Desa Pucungrejo dan Desa Ngawen yang berada di Kecamatan Muntilan ini juga menggunakan pengelolaan pengungsian berkelompok dengan memanfaatkan fasilitas publik yang berada di desa penyangga.Pola Pengungsian berkelompok Bertolak Belakang dengan Penanganan Covid19. Untuk itu tantangan terjadi ketika dunia sedang menghadapi Pandemi Covid-19 yang juga mau tidak mau harus dihadapi masyarakat di kabupaten Magelang, bersamaan dengan itu Merapi terus bergeliat dengan beberapa erupsi minor dan vertical. Hal ini membuat banyak pertanyaan bagaimana mengamankan warga ketika harus mengungsi karena Erupsi Merapi disisi lain juga dihadapkan dengan Covid-19 yang mengintai. Pola pengungsian berkelompok dihadapkan dengan antisipasi Covid-19 dengan cara pembatasan Sosial dan pembatasan Fisik. Hal ini menjadi Titik kritis mencari format manajemen pengungsian yang akan dipilih oleh konsep desa bersaudara ini.Modifikasi protap Penanganan pengungsi Erupsi Merapi merespon Covid-19 ala Desa Bersaudara.

      Titik temu pun terpecahkan dengan dilakukannya pertemuan menggagas antisipasi Erupsi Merapi dan merespon Covid-19 Beberapa catatan Menarik pun menjadi Prosedur Tetap memasukan 2 ancaman yaitu Erupsi Merapi di Tengah Covid-19 diantara catatannya adalah sebagai berikut;

1.     Atas Semangat Desa Bersaudara, Desa Penyangga (Pucungrejo dan Ngawen ) TETAP menerima pengungsi apabila terjadi      
       pergerakan pengungsian, dengan syarat menerapkan protokol pencegahan Covid 19;         

2.    Beberapa SOP Pengungsian yang dibangun antara lain:
       a.    Pendataan Warga Sumber ( ODP, Disabilitas, Orang berpenyakit Menular, Kelompok Rentan)
       b.    Memisahkan warga yang sehat, tidak Sehat, Disabilitas, Kelompok rentan dan ODP
       c.    Mengevakuasi warga sesuai dengan kondisi Kesehatannya seperti diatas.
       d.    Menempatkan warga di pengungsian sesuai dengan kondisi pada huruf b.
       e.    Bagi Desa Penyangga Menyiapkan tempat untuk :
             * Isolasi bagi ODP
            * Warga yang sakit
            * Menerapkan protokal pencegahan Covid 19 di pengungsian bagi semua orang baik pengungsi ataupun petugas
Tantangan yang dihadapi Selesai dengan Konsep “ Pengungsi Mandiri ”
        Tantangan yang muncul tetap saja ada, sehingga memunculkan strategi membangun ketangguhan di situasi seperti ini. Beberapa tantangan yang muncul adalah ketersediaan tempatan pengungsian, ketersediaan MCK, Penyediaan logistik
        Bahwa sejak awal dicetuskannya konsep desa bersaudara adalah dengan semangat “ Pengungsi Mandiri “ Maka Desa Sumber akan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki desa dan masyarakatnya untuk mencukupi kebutuhannya, seperti :

1.    Pengadaan Logistik
2.    Penyediaan Sanitasi
3.    Relawan
    
                                                        “ KETEMU SEPISAN SEDULURAN SAK LAWASE “